Come Back to Fitrah (Bagian I)


Satu hal yang pasti menjangkiti hati seorang hamba yang mukmin ketika sang “Tamu Agung” akan segera meninggalkan kehidupannya. Rasa sedih, penyesalan, dan harapan bercampur-aduk menjadi satu. Berbeda dengan kebanyakan orang-orang biasa yang hanya memaknai hadirnya Ramadhan sebagai Tamu Agung dengan biasa-biasa saja, bahkan tidak dianggap dan dibairkan sama sekali.

Di dalam hati hamba-hamba Allah yang mukmin pastilah meninggalkan noktah dalam hatinya kala Ramadhan akan segera meninggalkan jenak kehidupannya. Noktah itu merupakan hasil dari penempaan, hasil dari tarbiyah, hasil dari pembiasaan di madrasah Ramadhan ini. Dan, noktah itu adalah sebuah kerinduan yang menyangat untuk senantiasa dekat dengan rahmat, dan maghfiroh-nya Allah ta’ala. Sedih rasanya bagi orang-orang mukmin ketika Ramadhan akan usai, dan yang ada adalah rasa harap untuk dapat dan segera menemui Ramadhan yang mendatang. Itulah mengapa, kerinduan yang menyangat itu benar-benar membekas di dalam benak orang-orang mukmin.

Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan kebarokahan. Dari awal bulan hingga akhir bulan, Allah ta’ala menjanjikan pelipat-gandaan pahala yang melimpah ruah. Dan, masya Allah, Ramadhan di tutup dengan adanya hari istimewa bagi umat Islam. Hari raya Ied al-Fithri. Hari raya Ied al-Fithri mengajarkan kepada kita akan konsepsi kembali ke fitrah bagi seorang muslim

Hari raya ied seperti titik terminasi bagi diri seorang hamba dalam menjalani kehidupannya. Mengapa demikian ?. Setidaknya ada beberapa hal yang memperkuat mengapa Hari raya Ied disebut sebagai titik terminasi dalam kehidupan manusia, sebagai momentum untuk berhenti sejenak, diantaranya adalah :

1. Hari raya Ied sebagai puncak keberhasilan Ramadhan dan permulaan keistiqomahan setelah Ramadhan

Ramadhan memberikan arti penting bagi seorang hamba, untuk senantiasa mendekatkan diri pada Illahi. Perintah untuk melaksanakan kewajiban dari Rabb-nya, di laksanakan dengan penuh sukacita, bahkan ibadah sunnah sekalipun, terjadi lonjakan kuantitatif dan kualitatif daripadanya. Ramadhan, membuat semacam planning, target amalan yang akan dikerjakan selama bulan mulia ini. Wajar apabila seorang hamba menginginkan untuk mendapatkan kebaikan di akhir ramadhannya. Oleh karena itu yang dibutuhkan adalah keistiqomahan dalam melaksanakan amalan-amalan yang sudah di targetkan maupun yang belum sekalipun. Keistiqomahan yang dibangun tidak hanya berujung pada akhir Ramadhan saja, akan tetapi keistiqomahan itu dapat tetap bertahan hingga bertemu dengan Ramadhan di kesempatan berikutnya. Oleh karena itu Hari raya layaknya sebagai tempat pemberhentian sejenak, setelah berhasil menorehkan prestasi-prestasi amal di satu bulan Ramadhan dan segera siap kembali untuk melanjutkan kehidupan penuh prestasi amal di sebelas bulan berikutnya.

2. Hari raya Ied sebagai momentum kontemplasi dan evaluasi diri

Banyak dari hamba Allah yang kemudian memandang Hari raya hanya sebagai momentum perayaan tanpa ada pemaknaan-pemaknaan yang itu sebenarnya menjadi sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia untuk menapaki kehidupan di masa mendatang. Tiada gading yang tak retak, semboyan inilah yang sejatinya melabeli manusia sebagai makhluk yang padanya terletak kesalahan-kesalahan yang itu tak dapat dihindarinya, bahkan seorang yang dianggap sholeh sekalipun, pasti tidak akan luput dari yang namanya kesalahan. Oleh karena itu sangatlah penting bagi seorang hamba untuk dapat melihat kebelakang sejenak atas apa yang telah dilakukannya selama ini.

(continued…)


Post Views: 226