Batik for Fashion – Tuneeca Blog


Batik merupakan salah satu unsur kekayaan budaya Indonesia yang telah mendunia. Mungkin ada yg mengatakan bahwa batik sangat kuno atau batik hanya digunakan sebagai seragam di hari Jumat dan lainya. Tidak hanya digunakan masyarakat jawa dan Indonesia pada umumnya, kini batik digemari hingga kancah dunia. Unsur seni dan keragaman batik menjadi daya tarik tersendiri oleh wisatawan bahkan di luar negeri pun batik digunakan sebagai desain merk baju dunia dan oleh desainer ternama. Seharusnya kita sebagai negara pencetus batik selayaknya menggunakan dan mengaplikasikannya di dalam fashion.

Paris summer fashion week 2009, Alexander McQueen batik suit.
Jessica Alba in batik cocktail dress.

Menurut sejarah kebudayaan Indonesia, ada beberapa pandangan yang mengelompokkan batik menjadi dua kelompok seni batik, yakni batik keraton (Surakarta dan Yogyakarta) dan seni batik pesisir.  Motif seni batik keraton banyak yang mempunyai arti filosofi, sarat dengan makna kehidupan. Gambarnya rumit/halus dan paling banyak mempunyai beberapa warna, biru, kuning muda atau putih. Motif kuno keraton seperti pola panji (abad ke-14), gringsing (abad 14), kawung yang diciptakan Sultan Agung (1613-1645), dan parang, serta motif anyaman seperti tirta teja.

Motif Parang Rusak, Batik Yogyakarta.
Motif Keraton, Batik Cirebon.
Motif Karang laut, Batik pesisir, Trusmi.

Kemudian motif batik pesisir memperlihatkan gambaran yang lain dengan batik keraton. Batik pesisir lebih bebas serta kaya motif dan warna. Mereka lebih bebas dan tidak terikat dengan aturan keraton dan sedikit sekali yang memiliki arti filosofi. Motif batik pesisir banyak yang berupa tanaman, binatang, dan ciri khas lingkungannya. Warnanya semarak agar lebih menarik konsumen. Selain itu ragam corak dan warna Batik dipengaruhi oleh berbagai pengaruh asing. Awalnya, batik memiliki ragam corak dan warna yang terbatas, dan beberapa corak hanya boleh dipakai oleh kalangan tertentu. Namun batik pesisir menyerap berbagai pengaruh luar, seperti para pedagang asing dan juga pada akhirnya, para penjajah. Warna-warna cerah seperti merah dipopulerkan oleh Tionghoa, yang juga memopulerkan corak phoenix.

Batik Jawa Hokokai, memiliki sentuhan khas Jepang.
Batik Buketan, dipengaruhi unsur Eropa

 

Bangsa penjajah Eropa juga mengambil minat kepada batik, dan hasilnya adalah corak bebungaan yang sebelumnya tidak dikenal (seperti bunga tulip) dan juga benda-benda yang dibawa oleh penjajah (gedung atau kereta kuda), termasuk juga warna-warna kesukaan mereka seperti warna biru. Batik tradisional tetap mempertahankan coraknya, dan masih dipakai dalam upacara-upacara adat, karena biasanya masing-masing corak memiliki perlambangan masing-masing. Saat ini untuk mempopulerkan batik menjadi kreasi yang elegan kita dapat menggunakan padupadan corak batik dalam desain modern. Agar nilai menjadi lebih eksklusif, indah dan tetap membawa unsur budaya Indonesia.

Gamis Kebaya Obi Belt
Blouse Wrap Assymetric Collar

“Masih menganggap pakaian tradisional kita sebagai sesuatu yang kuno? Jika kini kami tunjukkan label-label yang terinspirasi dari motif kain batik dan kain ikat kita pada koleksi terbarunya, apa kamu masih berpendapat yang sama? Dengan padu padan yang tepat dan pilihan yang semakin stylish, kamu pasti akan merasa bangga mengenakan busana dengan unsur tradisional khas Indonesia”

Sheny Septie (fimela.com)

foto: doc. Tuneeca, doc. Google.


Post Views: 1,209